/
Featured Post Today
print this page
Latest Post

Bersyurkurlah Kau Hidup




Ilustrasi gadis kecil (sumber gambar : vemale.com)

Surabaya-Minggu 5 Juli 2015. Terik matahari menyengat, hiruk pikuk masyarakat datang dan pergi berbelanja di stand bazaar barang murah ramadhan. Kali ini aku mengikuti acara sosial komunitas Lentera Harapan di Putat Jaya, Surabaya. Daerah ini dulunya lebih dikenal sebagai kawasan lokalisasi dolly. Lokalisasi tempat para kupu-kupu malam yang konon katanya terbesar di Asia Tenggara.

Ketika aku sedang duduk disebuah batu besar di sekitar lokasi bazaar, tampak seorang anak kecil menggunakan Egrang (sebutan tongkat pembantu berjalan) mendekatiku. Aku lihat ia hanya mempunyai satu kaki. Entah apa yang terjadi pada kaki anak itu hingga ia kehilangan salah satu organ pentingnya.

Lalu aku bertanya “apakah adek sudah belanja, mana ibunya?”. Anak kecil itu menjawab “ibuku sudah tiada”. Lalu muncullah kakak anak tadi yang kira-kira seumuran anak sekolah dasar. Lalu anak itupun pergi dengan dengan wajah ceria. Nampaknya gadis pengguna egrang tadi menunggu sang kakak yang sedang berbelanja untuk pulang bersama.

Seketika itu terlintas dibenakku, apakah selama ini aku banyak mengeluh tentang pahitnya hidup. Lalu bagaimana anak itu, bagaimana ia menanggung beban hidup diusia dini yang mungkin jauh dari apa yang pernah kita pikul. Mungkinkah selama ini kepongahan hidup telah menutup mata hati hingga lupa sekedar untuk mengucap syukur. (Inspirasia abc)
0 komentar

Bersama Kunang-kunang, Lika-Liku FIM Jaya 2014-15


Suasana Pelatihan FIM 13 di Wiladatika-Cibubur

“Orang Tua Bicara Masa Lalu, Pemuda Bicara Masa Depan” - Cerita ini dimulai tahun 2012 ketika mata tertarik dari sebuah publikasi pelatihan kepemimpinan Forum Indonesia Muda (FIM) di Cibubur. Sebagai mahasiswa aktif kala itu, saya mendaftarkan diri pelatihan pemuda ini dan Alhamdulillah ditakdirkan menjadi 1 diantara 120 pemuda yang beruntung terpilih menjadi calon peserta FIM Angkatan 13 dari ribuan pendaftar.


“Angka Sial” - Forum anak muda yang menyebut dirinya kunang-kunang saat itu telah memasuki angkatan ke-13, kata orang angka 13 dinilai sebagai angka kramat. Namun kami bukanlah kelompok orang yang terjebak dalam pengkultusan angka. Terbukti 3 tahun pasca pelatihan FIM saat itu, kunang-kunang mulai nampak dan bertebaran menghiasi seantaro negeri tercinta mengisi berbagai pos-pos kontributif untuk bangsa.

“Membawa Tongkat Estafet” - Tahun 2014 saat FIM menginjak angkatan 16, entah sebab apa tetiba saya yang Fokus dengan aktivitas Kerja ditunjuk sebagai Koordinator FIM Jember (kemudian berubah menjadi FIM Jember Raya atau disingkat menjadi FIM JAYA). Beranggotakan 8 orang yang supersibuk ada Qiwe, Yanu, Dhimas, Imay, Nina, Bagus, dan Firo, kami berusaha untuk tetap eksis ditengah keterbatasan personil, waktu dan sumberdaya.

“Menyambut Tantangan” - FIM regional yang berbasis teritori dibentuk sebagai wadah bagi para alumni FIM sepulangnya dari pelatihan untuk saling menyapa, berbagi inspirasi, dan beraktualisasi di regionalnya masing-masing. Mengelola komunitas ini gampang-gampang susah, alumni FIM rata-rata dikenal kalau tidak sebagai akademisi tulen, aktivitis kampus, aktivis sosial serta orang supersibuk lainnya. Alhasil intensitas pertemuan komunitas ini menjadi sangat terbatas, syukur kalau tiap bulan bisa ketemu :D.

“Tetaplah Kunang-kunang”- Ditengah berbagai aral-rintangan itu, alhamdulillah berbagai kegiatan kontribusi bisa kita selenggarakan diantaranya, penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada siswa sekolah, senam bersama siswa sekolah dsb. Rata-rata Agenda yang kami adakan bukanlah hal-hal yang berat dan mendewa seperti komunitas lainnya. Namun kami titik beratkan pada kebersamaan dan kontribusi real ke masyarakat.
Pelatihan PHBS bagi Siswa Sekolah di Garahan Jember
“Jika Ada 10 Pemuda Maka akan Aku Guncang Dunia”- Forum Indonesia Muda telah menginjak angkatan 16, setelah pelatihan itu FIM Jaya mendapatkan 2 personil kunang-kunang baru. Kami pernah bermimpi jika personil FIM sudah mencapai 10 orang maka FIM Jember harus move dan go public agar keberadaannya dapat dirasakan dan menjadi inspirasi di masyarakat. Kenapa harus 10? mulanya kami terinspirasi oleh jargon bung Karno, namun tidak sema-mata karena angka. Sepuluh orang bagi kami sebagai jumlah minimum bagi pemuda model anak FIM untuk memberikan hal yang lebih besar bagi masyarakat sekitar.

“Bersama Berbagi Senyum”- Seiring dengan genapnya 10 anggota FIM Jaya, pada bulan januari 2015 kami bersepakat membuat komunitas anak muda yang bergerak dalam bidang lingkungan. Komunitas itu kita beri nama Green Youth Community (komunitas pemuda hijau) atau disingkat GYC. Beberapa kali kami membuat kegiatan berbasis lingkungan. Diantaranya pelatihan eduplant di sekolah, pelatihan pembuatan keranjang takakura, tanaman vertikultur, dan aksi sosial lainnya. Dengan adanya komunitas GYC kami menaruh harapan sederhana, yaitu kami ingin berbagi senyum bagi lingkungan sekitar.
Peserta Edukasi Berkebun GYC di SMP 14 Jember

“Sejarah memang Berulang” - Entah sebab apa, pelatihan FIM 17 Tahun 2015 seolah kembali mengulang sejarah seperti halnya angkatan 12 dan 13, perwakilan Jember kembali sebagai single fighter atau calon tunggal. FIM 17 ini juga penuh dengan lika-liku, dua hari sebelum pelatihan kami mendapat kabar jika Capes satu-satunya berhalangan hadir dikarenakan sakit dan menumpuknya jadwal kuliah akibat agenda diluar negeri. Tentu ini bukan kabar mengenakkan bagi kami para punggawa FIM Jember Raya, mengingat 2015 adalah tahun sebagian besar anggota regional ini lulus kuliah dan biasanya tradisi mahasiswa Jember akan pulang kampung atau berdiaspora ke kota lain. Menjadi kekhawatiran kondisi seperti ini mengubur perjuangan yang telah dibangun FIM Jaya selama ini.

“Bukan Pemuda Kalau Menyerah” - Namun akhirnya usaha dan doa kami membuahkan hasil, muncul sosok pemudi terbaik yang menjadikan semangat sebagai ciri khasnya :D. Pemudi itu bernama Nurul Fitriah atau biasa kami sapa dengan NuPit ketua salah satu UKM Fakultas Farmasi Universitas Jember. Dengan kegigihan dan perjuangannya sampailah pemudi itu di Wiladatika-Cibubur tempat anak muda terpilih mengikuti pelatihan FIM 17.

“Saatnya yang Muda Berkarya” - Tak bisa disebut sehat bila komunitas gagal move on karena individu. FIM 17 memiliki arti tersendiri bagi kami, yaitu sebagai penanda bahwa FIM Jaya, sudah saatnya melakukan reformasi struktural. Akhirnya melalui musyawarah lebih tepatnya ngopi bareng/ gathering khas FIM Jaya, terpilihlah Dani Setiawan sebagai Koordinator dan Amelia Nandya sebagai Wakil Koordinator Forum Indonesia Muda Regional Jember Raya yang baru.

Seiring dengan munculnya dua punggawa FIM Regional Jaya maka purnalah tugas sebagai koordinator, namun bukan berarti telah purna dari kontribusi. Tantangan hidup telah menanti, mohon maaf bila tangan kecil ini terlalu jauh dari kesempurnaan. Sukses selalu buat FIM Jaya dan anak muda di seantaro negeri.

“Kunang-kunang bukanlah Matahari yang mendominasi terangnya siang, namun kunang-kunang bersama memberikan secercah harapan dalam pekatnya kegelapan”.


Surabaya, 22 Mei 2015
Achmad Bukhori

Pelatihan FIM 13 di Taman Bunga Wiladatika-Cibubur





0 komentar

Gemerlap Masjid Ceng Ho, Pelurusan Sejarah Masa Lalu


Arsitektur Masjid Ceng Ho Surabaya (sumber gambar : www.wego.co.id)
Masjid Ceng Ho Surabaya, salah satu dari sekian destinasi Masjid unik dan eksotik di Indonesia. Masjid yang dibangun pada Tahun 2001 dan selesai pada Tahun 2002 ini, mempunyai desain yang unik. Umumnya Masjid yang dibangun di tanah air menggunakan corak arsitektur Jawa dan Timur Tengah, sedangkan Ceng Ho di desaign khusus dengan sentuhan corak khas tiongkok. Selain arsitektur, Masjid yang terletak di tengah pemukiman penduduk ini juga menggunakan nama Tiongkok yang tak lazim digunakan pada tempat ibadah umat Islam di Indonesia
.
Penamaan Ceng Ho  sebagai masjid  bukan tanpa sebab, Laksamana Ceng Ho, Zeng He atau Sam Poo Kong adalah seorang admiral Armada angkatan laut dari kekaisaran Dinasti Ming III asal Tiongkok. Laksamana Ceng Ho sebagai sosok yang terkenal dan dihormati masyarakat Tionghoa tak lain seorang kasim yang mempunyai karir militer yang cemerlang. Pada saat menjadi abdi sang Kaisar Ying Luk, Ceng Ho mendapatkan tugas menjelajah dunia dengan misi perdamaian dan salah satu persinggahan dari rombongan Laksamana adalah pesisir nusantara.

Kedatangan Ceng Ho pada tiap lokasi yang dikunjunginya memberikan kesan tersendiri. Tercatat Ceng Ho melintasi pesisir Utara Jawa, dilanjutkan ke pesisir Sumatra, lalu Malaka sampai Afrika. Ceng Ho yang juga seorang muslim kala itu diyakini turut menyebarkan agama Islam dan memberantas perompak disepanjang pesisir nusantara yang dilaluinya.

Saat ini Ceng Ho menjelma menjadi nama Masjid berasitektur tiongkok, diantaranya Ceng Ho Surabaya, Pasuruan, dan Palembang. Masjid Ceng Ho di Surabaya merupakan Masjid pertama di Indonesia yang diberi nama Laksama Ceng Ho. Atas prakarsa dan gotong-royong sejumlah tokoh, para sesepuh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) beserta masyarakat dan segenap stake holder maka pembangunan Masjid kebanggaan Muslim Tionghoa ini dapat terwujud.

Masjid Ceng Ho juga dikenal dengan nama Masjid Muhammad Ceng Ho memiliki luas bangunan 9 X 11 m2, berasitektur tiongkok dipadu dengan jawa dan arab. Arsitektur Tiongkok sangat terasa pada kombinasi warna pada tiap bagian yang didominasi oleh warna hijau, merah, biru dan kuning. Secara umum arsitektur Masjid ini mengacu pada salah satu Masjid berserajah di China yaitu Masjid Niu Jie di Beijing yang dibangun pada Tahun 996 M.

Jauh sebelumnya Ceng Ho tak hanya dipakai sebagai nama Masjid atau tempat peribadatan Kaum Muslim saja. Ceng Ho yang dikenal pula dengan nama Sam Poo Kong ini, telah lama digunakan sebagai nama sebuah kelenteng di Semarang, Jawa Tengah. Ada beberapa versi penyebab sang admiral dijadikan nama kelenteng. Ada yang menyebut bahwa Ceng Ho memang membangun Masjid dan Kelenteng, sedangkan versi lain menyebut bahwa Kelenteng Sam Poo Kong merupakan Masjid yang kemudian dirubah menjadi Kelenteng akibat derasnya kehadiran para pendatang Tionghoa yang beragama Tri Dharma  ke Semarang kala itu. Lantas dengan semakin banyaknya warga Tionghoa di Semarang menyebabkan perlahan-lahan Masjid dialih fungsikan menjadi Kelenteng hingga sekarang.

Terlepas dari kontroversi  penggunaan Nama Ceng Ho, adanya Masjid bernuansa oriental ini sebagai pertanda  pelurusan kembali sejarah bahwa Ceng Ho tak lain seorang Muslim yang taat. Masjid Ceng Ho kini telah menjadi ikon penting perkembangan Islam di Surabaya, sekaligus menjadi representasi eksistensi Muslim Tionghoa di Indonesia.

Refrensi : dari berbagai sumber
1 komentar

Jokowi dengan Tukang Stempel


Tanda Tangan Jokowi (sumber gambar : www.okezone.com)

Pemberian uang muka (DP) pembelian mobil dinas sejumlah pejabat negara oleh  pemerintah menambah panjang polemik kebijakan Pemerintahan Jokowi-JK. Kebijakan pemberian fasilitas pejabat  ditengah ketidakstabilan ekonomi nasional akibat kenaikan harga bbm yang tak menentu dibarengi dengan kenaikan harga bahan pokok, TDL, Tarif Kereta dan Transportasi umum lainnya tentu mengusik hati masyarakat. Apalagi ditambah dengan masih rendahnya kepercayaan terhadap perilaku amoral sebagian pejabat negara selama ini.

Sebenarnya kalau dilihat secara kuantitas nilai pemberian DP mobil dinas ini tidaklah terlalu fantastis. Pejabat negara yang didefinisikan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 39 Tahun 2015 tersebut sangatlah terbatas. Diantaranya Pejabat di DPR, DPD, MA, MK, BPK, dan KY. Dengan asumsi tiap pejabat negara mendapatkan 210,89 Juta Jika dikalkulasikan total pemberian DP mobil dinas itu senilai 158 Milyar dari 2.039 Triliun total APBN Tahun 2015. Namun fasilitas tambahan ini datang bagai menari diatas penderitaan rakyat, ketika rakyat kecil terhimpit beban hidup yang kian berat.

Seperti dilansir beberapa media, presiden menyatakan bahwa dirinya tidak tau pasti kebijakan yang ditandatanganinya. Jokowi terkesan menyalahkan Menteri Keuangan yang menyodorkan Draft Perpress tanpa memberitahukan terlebih dahulu substansi yang terkandung didalamnya. Dalam sistem pemerintahan presidensiil, menteri merupakan pembantu presiden yang bersama presiden bekerja sama dalam mengelola negara. Tuan tidak bisa cuci tangan atas apa yang dikerjakan pembantunya, karena inti tanggung jawab negara tetap pada Presiden.

Pernyataan kontroversial Jokowi soal ketidaktahuannya terhadap isi Perpress menjadi preseden buruk bagi integritas pemerintahan di mata publik. Presiden tidak boleh memposisikan diri sebagai tukang stempel, tinggal stempel tanpa tau substansi apa yang tertuang didalamnya. Bagaimana jika kebijakan yang diteken lebih substansial yang menyangkut harkat hidup bangsa. Apalagi publik sering dihadapkan pada kebijakan-kebijakan yang dinilai tidak pro rakyat, misalnya kebijakan kenaikan harga energi BBM, Gas, TDL, Kereta Api dsb. Masyarakat butuh keyakinan bahwa berbagai kebijakan yang menyusahkan rakyat benar-benar hasil kajian yang mendalam untuk kebaikan bersama.

Meski kini Perpress Nomor 39 Tahun 2015 telah dicabut, polemik tanda tangan perpress ini harus menjadi satu pelajaran penting. Publik butuh kepercayaan akan jalan terjal dan berbatu yang dipilih Kabinet Jokowi adalah untuk kemajuan bangsa. Sebagai Kepala Negara sekaligus Kepala Pemerintahan, Presiden harus menjaga marwah integritas di mata publik bahwa Presiden sebagai leader penentu kebijakan bukan sekedar tanda tangan atau tukang stempel semata. (abc)
0 komentar

Isu ISIS, Kepentingan Siapa?


isu isis kepentingan siapa
Tentara Suriah Berjalan diantara Puing yang Hancur (sumber gambar : www.republika.co.id)
Perang Suriah sebagai imbas dari rentetan Arab Spring tak kunjung Usai. Perang yang dipicu oleh ketidakpuasan atas kendali Pemerintahan Presiden Bashar al Asad, menyisakan duka yang mendalam. Seperti halnya sejumlah negara Arab yang terkena gelombang Arab Spring, kekisruhan di Suriah diawali dengan  demonstrasi besar-besaran oleh kelompok kontra pemerintah yang menuntut mundur Rezim Al asad. Namun Suriah yang dipimpin oleh  klan Asad tetap bergeming tetap tak ingin melepas tampuk kekuasaan dari tangannya. Hingga meletuslah perang saudara yang merenggut ratusan ribu jiwa itu.

Seperti yang dilansir oleh situs berita CNN tercatat tak kurang dari 215 ribu jiwa telah tewas, dan 1,3 Juta jiwa mengungsi di kamp pengungsian sejak perang tahun 2011 silam1. Sejak perang meletus, sejumlah faksi turut andil dalam pertempuran menentang rezim Diktator Asad. Selain Pasukan pemerintah, Rezim Asad yang dekat dengan kalangan syiah dibantu oleh milisi Hizbullah Lebanon dan secara diam-diam pula Iran turut serta membantu pertempuran melawan milisi pemberontak. Selama ini pula masing-masing pihak baik milisi kontra maupun kubu pro pemerintah saling menuai pasang surut kemenangan.

Berbeda dengan gejolak Arab Spring lainnya, Perang Suriah termasuk perang paling sengit dan rumit. Tidak hanya rakyat Suriah yang berkepentingan dalam perang berkepanjangan ini. Sejumlah pihak asing yang ingin menancapkan kekuasaannya sebut saja Amerika dan sekutunya yang ingin menggerus dominasi pengaruh Rusia di Timur Tengah ikut melancarkan serangan ke Suriah dengan dalih membantu kelompok pemberontak. Begitu pula Rusia pasca kehilangan Libya,  Rusia tak ingin kehilangan sekutu dekatnya lagi. Keterlibatan Rusia dengan menyuplai sejumlah persenjataan bersama dengan Iran membuat Rezim Asad semakin bertengger diatas kursi kekuasaan.

Namun belakangan peta perang telah berubah, selain pemberontak kontra pemerintah. Kini muncul faksi yang ingin mendirikan Daulah diantara Iraq dan Suriah. Kelompok ini menamakan dirinya dengan Islamic State in Iraq and Syam. Sejauh ini ISIS disebut-sebut sebagai sempalan dari kelompok Al Qaida membawa ide pendirian Khilafah dengan Pimpinannya Abu Umar Al Baghdadi.

ISIS popular dimata masyakat dunia dengan kebengisannya. Kelompok ini tak segan mengeksekusi para sandera yang dianggap representasi dari Negara yang Kontra terhadap misi ISIS meskipun hanya masyarakat sipil. Dalam dunia Islam, ISIS masih menuai kontroversi, Ulama Dunia Syekh Yusuf Qardhawi tidak sepakat dengan gagasan yang dibawa ISIS. Ketua persatuan Ulama Muslim se-Dunia itu, menilai khilafah ala ISIS tidaklah sah dan merusak perjuangan Islam2 . Ulama dalam negeri juga bernda sama dengan ketidaksetujuannya terhadap khilafah ISIS. Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj dan Ketua Umum MUI Din Syamsudin mengecam dan menghimbau rakyat Indonesia untuk tidak terlibat dalam ISIS.

Belakangan pemberitaan soal gerakan ISIS semakin ramai diperbincangkan di dalam negeri akibat hilangnya 16 WNI saat mengikuti tour  Wisata ke Turki. Menurut informasi yang beredar ke-16 WNI memisahkan diri ketika baru saja mendarat di Bandara Attaturk Turki. Mereka berpamitan akan menemui kerabatnya dan akan kembali beberapa hari kemudian. Namun sampai waktu yang disepakati para WNI yang memisahkan diri tak pernah kembali.

Berkaitan dengan isu hilangnya WNI di Turki, Menkopolhukam berdasarkan informasi dari Keduataan Besar di Turki menyatakan melalui sejumlah media bahwa ke-16 WNI diduga bergabung dengan ISIS3. Tentu pernyataan ini harus disikapi dengan bijak, sebab para sedari awal sejumlah pihak Institusi pemerintah telah mengaitkan hilangnya ke-16 WNI ini dengan ISIS. Padahal sampai saat ini WNI yang hilang tersebut belum ditemukan jejaknya. Bahkan satu diantara nama ke-16 WNI yang hilang ternyata selama ini berada di Surabaya dan tidak pernah ke luar negeri4.

Lalu kenapa menyimpulkan bergabung dengan ISIS?

Seperti halnya penjelasan diatas perang Suriah tidak semata-mata perang yang dimonopoli oleh ISIS. Melainkan perang antara pasukan pemerintah dengan para pemberontak yang menginginkan turunnya rezim penguasa. Sejak awal meletusnya perang pada Tahun 2011, para pemberontak yang melawan rezim Bashar Al Asad telah terbagi dalam beberapa faksi. Namun belakangan gerakan ISIS muncul seakan-akan menarik media bahwa yang memegang bandul perang di Iraq dan Suriah adalah ISIS. kalaupun ada warga negara yang masuk ke Suriah tidak serta merta bergabung dengan gerakan ISIS.

Pengasosiasian WNI dengan ISIS dapat berimplikasi luas. Citra buruk gerakan radikal ini, akan membawa dampak psikologis bagi para WNI yang hilang, keluarga, maupun dunia Islam. Selain itu, kesan ISIS juga dapat menurunkan citra Turki sebagai representasi negara Islam yang moderat.

Saat ini Indonesia didera berbagai isu kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat seperti ketidakpastian/kenaikan harga BBM, terpuruknya nilai tukar rupiah, mahalnya harga kebutuhan pokok terutama beras, kacaunya supremasi hukum, rencana kenaikan tarif moda Kereta Api kelas ekonomi, dan naiknya tarif dasar listrik. Jika dibandingkan dengan isu ISIS, berbagai isu ini mestinya menjadi perhatian publik, karena inilah ancaman nyata bagi harkat hidup dan stabilitas nasional. Rakyat harus cerdas, akan adanya upaya  ISIS dijadikan komoditi untuk mengaburkan sejumlah isu dalam negeri oleh elite yang tidak bertanggung jawab. Selain itu jangan sampai  isu ISIS dijadikan upaya untuk mendemarketisasi Islam dan memecah belah persatuan bangsa oleh pihak-pihak yang menginginkan umat lupa akan berbagai ancaman "nyata" di depan mereka.


Refrensi :
  1. http://www.cnnindonesia.com/internasional/20150316112945-120-39385/korban-perang-suriah-tembus-200-ribu-orang/
  2. http://www.dakwatuna.com/2014/07/05/54134/syaikh-qaradhawi-khilafah-ala-isis-tak-sah-secara-syariah/#axzz3UYDhT3Qi
  3. http://www.tempo.co/read/news/2015/03/09/058648482/Kata-Menteri-Tedjo-Soal-ISIS-dan-16-WNI-yang-Hilang-di-Turki
  4. http://news.detik.com/read/2015/03/12/163814/2857170/10/dikabarkan-hilang-di-turki-suroya-cholid-ternyata-masih-ada-di-surabaya?n991103605
0 komentar

Kemelut Banteng, Cicak dan Buaya dalam Pagar Istana



Polemik saling serang antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) menjadi pelengkap raport merah 100 hari Kabinet Jokowi-JK. Isu yang dipicu oleh penetapan Budi Gunawan sebagai calon tunggal Kapolri berbuntut panjang. Sejumlah petinggi baik di KPK maupun Polri satu persatu mulai terjerat sejumlah kasus pelanggaran hukum.

Jika sebelumnya Jokowi mencitrakan sebagai sosok yang bersih dan anti korupsi dengan menggandeng KPK dan PPATK, namun tidak halnya dengan pencalonan BG menjadi calon Kapolri. Jokowi sama sekali tidak melibatkan dua lembaga tinggi negara itu, padahal sebelumnya sang Komjen telah masuk dalam daftar nama pejabat Polri yang diindikasi memiliki rekening gendut oleh KPK atas laporan PPATK. Tentu proses penetapan Calon Kapolri dinilai janggal dalam prosesnya, sungguh aneh apa yang dilakukan presiden dengan memperlihatkan sikap inkonsisten terhadap janji kampanye untuk menjunjung tinggi pemberantasan korupsi.

Hingar-bingar semangat pemberantasan korupsi yang digaungkan Jokowi nampaknya mulai runtuh. Penetapan Budi Gunawan sebagai calon tunggal oleh presiden terkesan sangat dipaksakan. BG yang dikenal orang dekat Megawati ini akan menggantikan Jenderal Polisi Sutarman yang menjadi Kapolri. Sutarman yang menjabat Kapolri sejak rezim sebelumnya dicopot tanpa ada alasan kuat, hal ini menentang tradisi jabatan Kapolri yang selalu dijabat sampai sang Jenderal Pensiun. Inilah yang membuat sejumlah kalangan menyebut sang Presiden sedang melakukan aksi bersih-bersih stuktur era rezim SBY yang tersisa.

Pasca penetapan BG sebagai calon tunggal Kapolri, KPK menetapkan sang Jenderal menjadi tersangka atas kasus rekening gendut yang diduga dilakukannya saat menjabat sebagai Kepala Lembaga Pendidikan Polri Akademi Kepolisian. Sejumlah pertanyaan bermunculan terutama mengapa sang Jenderal baru ditetapkan sebagai tersangka kasus rekening gendut ketika menjadi calon orang nomor satu dalam korps Bhayangkara tersebut. Dan sejak kapan KPK mendapatkan data audit PPATK sehingga terkesan bermuatan politis ketika penetapan BG menjadi tersangka saat berada digerbang pintu Kapolri.

Bagai pagar makan tanaman, ditengah kisruhnya Calon Kapolri Komjen Budi Gunawan menjadi tersangka. Hasto sang PLT Sekjend Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) membeberkan kepada publik seputar pertemuan petinggi partainya dengan Abraham Samad yang merupakan pucuk pimpinan KPK. Semasa Kampanye 2014 AS digadang-gadang sebagai calon pendamping Jokowi dinilai telah melanggar UU KPK. Samad diduga telah melakukan pertemuan dan lobi politik dengan Pejabat Partai PDIP saat dirinya diisukan menjadi calon Wakil Presiden. Tentu manufer petinggi PDIP ini menggerogoti integritas Jokowi di mata publik.

Isu penyerangan dan pelemahan institusi KPK telah nampak dengan ditetapkannya Bambang Wijayanto menjadi tersangka. Bambang didera kasus seputar sengketa Pemilukada Kota Waringin Barat, Kalimantan Tengah saat dirinya berprofesi sebagai pengacara. Salah satu dari Wakil Ketua KPK ini ditetapkan sebagai tersangka atas laporan Sugiyanto yang tak lain adalah politisi PDIP. Penangkapan BW oleh Bareskrim juga kental nuansa politis, dalam kasus ini Polri dinilai begitu gesit merespon laporan Sugijanto selang beberapa hari pasca penetapan BG sebagai tersangka. Selain itu pencalonan BG dan penangkapan BW menggambarkan adanya gonjang-ganjing antar elit di lingkaran Presiden Joko Widodo.

Kemelut Buaya, Banteng dan cicak terus berlanjut hingga satu persatu petinggi KPK diperkarakan dalam sejumlah kasus. Melihat track record selama ini, para petinggi KPK tepatnya sejak kasus Antasari Azhar memang rawan berperkara dengan Kepolisian. Dengan nalar jernih publik dapat menilai bahwa sejumlah kasus yang menjerat para petinggi institusi pemberantasan korupsi tersebut cenderung mengada-ada seperti kasus AS yang dilaporkan seputar dugaan pemalsuan identitas.

Gesekan dan saling sandera antara penegak hukum sangat mungkin terjadi apabila masing-masing penegak hukum sendiri melakukan dan memiliki aib pelanggaran hukum. Sudah saatnya para penegak hukum baik KPK maupun Polri menahan diri demi Trust/kepercayaan masyarakat akan penegak hukum yang bersih dan berintegritas jauh dari politik kepentingan dapat terselamatkan. Selain itu kedua institusi penegak hukum harus berbenah diri dan fokus pada kasus-kasus besar yang jauh menyengsarakan rakyat seperti kasus mega seperti Century dan BLBI yang sampai sekarang tidak jelas ujungnya. Dalam hal ini tentu dengan tidak mengesampingkan pelanggaran hukum yang mungkin dilakukan oleh oknum dari kedua institusi.

Presiden sebagai pemegang tongkat komando pemerintahan harus berada di garda terdepan dalam menyelesaikan pusaran kasus ini. Rakyat kini menanti hadirnya matador yang menghunus pedang dengan menutup mata untuk menertertikan Banteng, Cicak maupun Buaya. Dengan demikian publik dapat membuktikan keseriusan dan ketegasan Presiden dalam memberantas korupsi demi terciptanya pemerintahan yang bersih seperti yang dicita-citakan sebelumnya.
0 komentar

Waspada Pangan Olahan Diatas Meja


makanan olahan (sumber gambar : www.resepnet.com)


Dewasa ini teknologi pengolahan berbasis pangan telah jauh berkembang pesat. Berbagai variasi pangan olahan dari berbagai jenis, tampilan, rasa, dan aroma memberikan daya tarik yang memikat pada konsumen. Seiring dengan tuntutan dan persaingan pasar, penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) oleh produsen pangan olahan menjadi semakin tak terhindarkan. 

BTP menawarkan berbagai macam keuntungan terhadap produk pangan, sehingga produk dapat tampil lebih baik. Namun penggunaan BTP bukan tanpa masalah, berbagai efek samping pada kesehatan diduga sebagai akibat dari penggunaan BTP yang berlebihan bermunculan, mulai dari yang ringan seperti diare, muntah-muntah, gangguan fungsi pencernaan, sampai pada gangguan kesehatan berat seperti kanker dan gangguan system syaraf pusat.

BTP dalam makanan harus didasarkan pada Asupan Harian yang Dapat Diterima (Aceptable Daily Intake) selanjutnya disingkat ADI, asupan harian yang dapat ditoleransi (MaximumTolerable Daily) yang selanjutnya disingkat MTDI, dan Asupan mingguan sementara yang dapat ditoleransi (Provisional Tolerable Weekly Intake) yang selanjutnya disingkat PTWI. Antara ADI, MTDI dan PTWI semuanya sama yaitu berbasis pada jumlah maksimum bahan tambahah dalam miligram per kilogram berat badan yang dapat dikonsumsi untuk “ADI” perhari, “MTDI” per hari yang dapat ditoleransi dan “PTWI” perminggu namun dalam jangka waktu terbatas.

Penggunaan BTP pada produk makanan dan minuman haruslah dilakukan pengawasan secara ketat mengingat potensi efek negatif yang ditimbulkan. Sebetulnya penggunaan BTP telah diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 33 Tahun 2012. Permenkes tentang Penggunaan BTP ini memberikan regulasi penggunaan BTP secara tepat dan diawasi oleh badan khusus yang menanganinya yaitu Badan POM. Namun konsumen harus tetap waspada dan mengetahui apa dan bagaimana BTP serta efeknya mengingat kasus penyalahgunaan BTP masih rawan terjadi.

Dalam Permenkes nomor 33 tahun 2012 ini dijelaskan bahwa produsen wajib mencantumkan golongan BTP yang digunakan. Bahkan untuk golongan BTP tertentu yaitu golongan antioksidan, pemanis buatan, pengawet, pewarna, dan penguat rasa, produsen diwajibkan pula mencantumkan nama jenis BTP, dan nomor indeks khusus untuk pewarna. Pencantuman golongan dan jenis BTP ini dimaksudkan untuk memberikan perlindungan yang lebih pada konsumen. Golongan-golongan BTP tertentu cocok dan sebaiknya dikonsumsi oleh kalangan tertentu misalkan pada pangan yang mengandung pemanis buatan, wajib mencantumkan tulisan “mengandung pemanis buatan, disarankan tidak dikosumsi anak dibawah 5 (lima) tahun, ibu hamil, dan ibu menyusui”.

Bahan Tambahan Pangan sejatinya telah digolongkan menjadi 27 golongan diantaranya, pengembang pengenyal, pewarna, pemanis dll. Selain ancaman penggunaan BTP yang tidak tepat dan berlebihan, konsumen juga harus waspada terhadap penggunaan bahan-bahan kimia Non Food Grade yang sengaja ditambahkan pada pangan olahan layaknya BTP. Bahan kimia Non Food Grade tentu sangat berbahaya bila masuk dalam tubuh manusia seperti formalin dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan mulai gangguan pencernaan ringan sampai pada kanker dan kerusakan hati.

Berbagai kasus penggunaan bahan kimia berbahaya pada makanan sudah sering terjadi. Seperti kasus penggunaan melamin pada susu produksi China, kasus tahu berformalin, krupuk dan bakso ber-boraks, saus tomat dan aneka makanan berpewarna tekstil (rodamin dan metylen yellow), dan sebagainya. Meskipun telah dilakukan pengawasan dan razia terhadap berbagai produk makanan-minuman berbahan kimia berbahaya namun kasus-kasus ini akan terus berulang. Mengingat kesadaran masyarakat akan berbagai bahan kimia berbahaya yang ditambahkan ini masih tergolong rendah. Sebut saja boraks dan rodamin yang masih sering/jamak digunakan oleh pelaku industri krupuk tradisional.

Masih seringnya penggunaan bahan kimia “tak lazim” dalam pangan olahan, bukan tanpa alasan. Faktor harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan harga BTP yang food grade menjadi penyebab utama penggunaan berbagai bahan kimia tersebut. Selain itu faktor kemudahan akses terhadap bahan kimia berbahaya tersebut masih menjadi penyebab lain yang dominan. Seperti halnya boraks dan rodamin yang mudah didapatkan dengan harga murah di toko kelontong.

Dengan masih rawannya pangan olahan yang tercemar oleh bahan-bahan berbahaya yang beredar maka masyarakatlah yang harus menjadi filter terhadap dirinya. Masyarakat sebagai konsumen harus memiliki kesadaran untuk memperhatikan dengan benar apa yang mereka konsumsi. Cara paling mudah untuk mendapatkan pangan olahan yang aman adalah dengan memperhatikan label pada kemasan produk. Pastikan label kemasan mencantumkan logo BPOM/P-IRT, kadarluarsa/expired, komposisi, kontra indikasi untuk BTP tertentu, nama serta alamat produsen, dan yang tak kalah penting adalah logo halal dari MUI yang menjadi sisi yang tak terpisahkan. Selain itu masyarakat harus selalu proaktif untuk selalu aktif dengan media informasi agar selalu dapat mengakses informasi terbaru seputar pangan olahan. Dengan begitu maka masyarakat akan terhindar dari pangan olahan ber-BTP dan bahan kimia berbahaya lainnya. “You Are What You Eat”. (Soft/AB)
0 komentar
 
Support : Creating Website Copyright © 2011. achmad bukhori - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger